Catatan Delegasi Viva Palestina Warga Sambut Meriah Bantuan Kemanusiaan

Sabtu, 23/10/2010 16:54 WIB

Ramadhian Fadillah - detikNews
Jakarta - Jumat 22 Oktober 2010 kami disambut resmi oleh Ismail Haniyya di Markaz Raszyad Syawa Tsaqofi yang dihadiri oleh seluruh peserta, pejabat Hamas dan masyarakat Gaza. Sebetulnya kami sudah tiba Kamis sore pukul 17.00 di Gaza. Setibanya di Gerbang Rafah, kami disambut oleh masyarakat Gaza dari berbagai organisasi di sana.

Seperti yang ditulis dalam surat elektronik yang dikirimkan ke detikcom dari anggota Komisi I DPR Yoyoh Yusroh, Sabtu (23/10/2010), selain Hamas, ada pula Jihad Islami kemudian Jabhah Sya’bi dan para pemuda serta masyarakat. Setelah penyambutan di gerbang, konvoi menuju Gaza disambut sangat meriah oleh masyarakat dengan berbagai ungkapan penghormatan seperti teriakan-teriakan maupun bendera serta spanduk berwarna-warni.

Masyarakat berjajar sangat rapat. Kami hanya diberi space satu kendaraan. Sampai Ibu Sylvi yang mengemudikan kendaraan berujar, "Ngeri juga ya, mereka terlalu dekat khawatir menyenggol". Peserta boleh mengungkapkan kegembiraannya dengan bebas berteriak membunyikan klakson, sirene dan sebagainya, juga tidak dilarang untuk melafalkan teriakan-teriakan seperti Gaza Hadiyyah, Ardhul Izzah, Ardhul Mubarokah.

Agenda kami kemarin begitu padat, sehingga membuat kami kelelahan. Kami sudah meninggalkan penginapan di El-Arish sejak pukul 11.00 siang waktu setempat menuju pelabuhan untuk mengambil kendaraan masing-masing. Kami diantar dengan 20 bus yang dikawal ketat oleh pihak keamanan Mesir. Oleh panitia, kami diingatkan tidak boleh berteriak, tidak boleh membunyikan klakson, diharuskan diam dan tenang.

Kami tidak memahami mengapa pengamanan seperti ini, sampai disepanjang jalan diberlakukan satu jalur, terutama di pelabuhan. Setiap 5 meter ada satu tentara, bahkan kendaraan anti huru-hara juga disiapkan. Mungkin karena kami datang dari 30 negara sehingga mendapat pengamanan ekstra.

Pagi ini pukul 09.00 waktu setempat, kami sudah berangkat dari penginapan menuju daerah yang terparah mengalami musibah yaitu Burjul Andalus (menara tertinggi di Gaza yang hancur lebur dan belum dapat dibangun kembali), kemudian ke bait lahiyya, daerah yang paling dekat dengan pemukiman Israel dan banyak bangunan yang rata dengan tanah. Kemudian ke Jabalia dan yang lainnya.

Rasannya haru sekali melihat saudara-saudara kita yang tinggal di rumah tanpa atap permanen sudah berbilang tahun, juga yang masih sholat Jumat di tenda. Betapa biadabnya Israel, pantas kalau kejahatannya tertulis dalam Guinness Book of Record.

Pukul 12.00 waktu setempat, kami salat Jumat di Masjid Asy-Syathiil Kabir yang berdekatan dengan kediaman Ismail Haniyya,  di perkampungan nelayan yang kumuh, beliau sendiri yang menjadi khotib dan imam. Subhanallah, perdana menteri hafal Quran ini menjadi khatib dan juga imam masjid. Lalu kapankah di Negeri kita punya pemimpin seperti ini?.

Testimoni dari para tetangganya yaitu kaum mustadh’affin, mereka begitu kagum terhadap Ismail Haniyya yang dikenal dikalangan mereka sebagai Abul ‘Abd, karena anaknya yang pertama bernama Abdussalam dan Beliau sangat sayang kepada para tetangganya.

Dalam khutbahnya, beliau mengatakan bahwa keberadaan Kafilah Viva Palestina 5 adalah sebuah kebanggaan kami. Karena dengan hadirnya kafilah ini, membuat terbukanya mata dunia yang selama ini diam terhadap masalah Palestina.

Kedatangan kafilah kali ini, menunjukkan kepada dunia bahwa yang tidak takut dengan pesawat tempur Israel bukan hanya warga Gaza, akan tetapi semua yang hadir di kafilah ini merasakan hal yang sama.

"Dan kalian yang hadir di sini adalah yang sudah siap dengan ihdal husnayain. Dengan kedatangan kafilah ini, membuat masyarakat teringat kembali kepada para mujahid pembangun negeri ini, seperti Syekh Ahmad Yassin, Abdul Aziz Rantisi, Syekh Abu Syanab, Said Shiyam dan para mujahid lainnya yang telah mempersembahkan nyawanya demi kemerdekaan Palestina.

Setelah salat Jumat, seluruh peserta konvoi beramah-tamah bersama beliau di sebuah rumah makan dengan sajian Ma’lubah (semacam nasi kebuli tapi berwarna kuning) dengan minuman ringan tanpa acar, sayur atau buah. Dengan makanan seperti ini, kami pun merasa malu karena dijamu dengan sebegitu istimewa oleh sebuah bangsa yang sedang terbelenggu kebebasannya.

(nik/gah)

SUMBER:

No comments:

Post a Comment