Jalaluddin As-Suyuthi hafal Al Quran belum genap 8 tahun

Jalaluddin As-Suyuthi dilahirkan pada tahun 849 H/ 1445 di kota Kairo. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Kamal Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiq Ad-Dhin bin Fakhr Utsman bin Nashiruddin Muhammad bin Himamuddin Al-Hammam Al-Hudairi As-Suyuthi. Bergelar Jalaluddin dan akrab dipanggil Abu Fadhil. Nama panggilan ini adalah pemberian dari gurunya, Al-Izzu Al-Kanani Al-Hanbali. Namun di kemudian hari ia lebih dikenal dengan nama As-Suyuthi, yang dinisbatkan kepada ayahnya yang dilahirkan di daerah Suyuth.

Ketika As-Suyuthi masih berumur 6 tahun, ayahnya meninggal dunia. Walaupun begitu ia tetap memiliki semangat tinggi dan kecerdasan yang luar biasa dalam menuntut ilmu. Maka tidaklah mengherankan jika ia mampu menghafal Al-Qur’an ketika usianya belum genap 8 tahun, kemudian ia juga mampu menghafal kitab Al-Umdah, Minhaj Al-Fiqih, dan Alfiyah Ibnu Malik.

Selain tekun belajar, ia juga rajin beribadah dan berdo’a. Tak sekalipun As-Suyuthi membuang waktu ketika menuntut ilmu. Suatu ketika, ia menunaikan ibadah haji dan meminum air zam-zam, lalu berdo’a agar ilmunya dalam bidang fiqih setingkat Al-Baqillani dan dalam bidang hadits sekaliber dengan Ibnu Hajar Al-Asqalani

Perjalanan Mencari Ilmu
Dalam pengembaraannya mencari ilmu, As-Suyuthi singgah ke beberapa negeri seperti Syam, Hijaz, Yaman, India dan Maroko. Ia berguru kepada sejumlah ulama besar, diantaranya:
  • Jalaluddin Al-Mahalli
  • Ahmad bin Ali Ayamsahi (ulama fara’id)
  • Al-Bulqaini (ulama fiqih)
  • As-Syamani (ulama hadits, ushul fiqih, teologi dan nahwu)
  • Al-Izzu Hanbali (ulama hadits, bahasa Arab, sejarah)
Selain guru laki-laki, As-Suyuthi juga meresap ilmu dari sejumlah ilmuwan perempuan, diantaranya:
  • ‘Aisyah binti Jarullah
  • Ummu Hani binti Abul Hasan
  • Shalihah binti Ali
  • Niswan binti Abdullah Al-Kanani
  • Hajar binti Muhammad Al-Mishriyyah

Wafat
Jalaluddi As-Suyuthi meninggal dunia pada tahun 991 H.

Karya Jalaluddin As-Suyuthi
As-suyuthi mulai menulis ketika masih berusia 17 tahun. Namun ia baru memusatkan diri dalam berkarya ketika usianya menginjak 40 tahun. Ia beruzlah di tempat tinggalnya, Raudlatul Miqyas, di tepian Sungai Nil. Ia termasuk ulama yang sangat produktif dalam berkarya. Ia memiliki ratusan kitab dalam berbagai bidang keilmuan, mulai dari tafsir, hadits, fiqih, bahasa Arab, sastra, tasawuf, hingga ilmu sejarah. Ibnu Iyas, salah seorang murid As-Suyuthi, mengatakan bahwa jumlah karya As-Suyuthi mencapai 600 buah. Adapun menurut As-Sa’id Manduh, karya As-Suyuthi mencapai 725 buah. Karya As-Suyuti diantaranya:
  • Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an
  • Ad-Durr Al-Manshur fi At-Tafsir bil-Ma’tsur
  • Tarjuman Al-Qur’an fi At-Tafsir Al-Musnad
  • Asrar At-Tanzil
  • Lubab An-Nuqul fi Asbab An-Nuzul
  • At-Takhbirfi Ulum At-Tafsir
  • Mufhamat Al-Qur’an fi Mubhamat Al-Qur’an
  • Al-Iklil fi Istinbat At-Tanzil
  • Al-Hasyisyah fi Tafsir Al-Baidhawi
  • Takmilah Tafsir As-Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli


Referensi:
Profil Para Mufassir Al-Qur’an, Syaiful Amin Ghafur, Penerbit Pustaka Insan Madani th. 2008
Terjemah At-Tibyan fi ‘Ulumil Qur’an, Syeikh Muhammad Ali As-Shabuni, judul:Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis, diterjemahkan oleh Muhammad Qadirun Nur, Penerbit Pustaka Amani Jakarta, th. 2001.
 
SUMBER:

No comments:

Post a Comment